Orang ketiga diluar cerita.
9gag:

Never forget. #9gag

9gag:

Never forget. #9gag

"Mental illness is like fighting a war where the enemy’s strategy is to convince you that the war isn’t actually happening."

auntivietnanti:

Yup betul banget, Depressi jangan disembunyikan. Menekan depressi sama saja dengan menekan ‘beach ball’ ke dasar lautan..menekannya harus kuat tapi pasti kembali memantul keatas permukaan lagi. Depressi tak perlu ditekan apalagi disembunyikan.

Katanya ahli juga, orang dengan depressi itu seperti berada dalam dasar kolam yg hitam pekat. Dan mereka selalu melihat kedasar kolam, gelap, pekat tak bercahaya. Yang mereka perlukan hanyalah mencoba melihat ke atas, mencari seberkas sinar diatas sana…ada banyak cahaya diatas sana, ada banyak kerabat dan teman yang siap mengulurkan tangan….gapai tangan2 itu jangan lepaskan.. cari terus cahaya diatas sana, jauhi segala hitamnya apalagi pekatnya.

Setuju banget.

(Source: solar-citrus)

shofadzakiah:

thecosmicwarrior:

Relevant to my life. This aptly describes how I feel.

Personal Space.

Pas!

Tak Ada yang Tahu Kapan

Saya selalu berpikir tidak ada tanda yang pasti kapan kita harus menyerah, kenyataannya orang selalu berkata sesorang harus berjuang sampai titik darah penghabisan, Lalu di mana titik darah penghabisan itu terjadi? Apakah saat kematian datang? Jadi kita harus memperjuangkan sesuatu yang bahkan tak berhasil akhirnya hingga kematian menjemput?

Mengingat sebuah komik yang saya baca dimana tokoh utamanya sampai menderita depresi—tanpa ia sadari—karena tertekan pilihan antara menyerah atau tetap berusaha tanpa pernah menangis. Dia tergantung diantara kedua pilihan tersebut. Komiknya sendiri berjudul The Sand of Chronicles, pembahasan lebih lanjut tentang komik itu, nanti saja kalau sempat lah.

Berhubung cerita selanjutnya akan menyangkut beberapa merk produk kosmetik, saya tekankan disini, saya tidak sedang melakukan review produk…

Cerita bermula ketika saya mengalami jerawat yang cukup banyak dan mengganggu penampilan. Bohong sekali kalau ada yang bilang penampilan wanita itu sama sekali tak penting yang penting adalah hatinya, bagaimana anda tahu kalau sebuah bunga di dalam buket yang tertutup plastik bagus jika buket tersebut baru saja tercelup dalam kotoran sapi—ah sudahlah—.

Menghadapi jerawat tersebut maka saya memutuskan untuk bercerita pada ibu saya dan meminta beliau yang kebetulan sedang berada di luar rumah untuk membelikan obat sakit kepala yang katanya kalau dicampur madu, ampuh sekali untuk mengempiskan jerawat.

Lalu kemudian ibu saya pulang, membawakan sebuah produk tea tree cream yang kata mbaknya apotek ampuh mengatasi jerawat. Awalnya sedikit kecewa karena memang niat awal saya adalah bereksperimen dengan bahan murah tapi ternyata dibelikan sebuah produk yang harganya cukup dan sangat tidak familiar. Karena terlanjur dibelikan dan rugi sekali kalau tidak di pakai, maka saya memutuskan untuk memakainya.

Ternyata produk tersebut ampuh sekali mengatasi jerawat, beberapa kali oles jerawat kempes tanpa bekas—tidak saya tidak melakukan promosi disini—sejujurnya saking senangnya saya menggunakan produk ini, saya sampai mepromosikannya kepada beberapa teman yang mengatasi masalah sama. Lalu produk ini menjadi penolong saya selama beberapa bulan hingga tandas, benar-benar tandas sampai saya potong tubenya menjadi beberapa bagian seperti ketika kehabisan odol di saat malas beli.

Saya bingung harus beli dimana lagi produk yang sama, ibu saya lupa membeli benda itu dimana, saya sudah masuk dan keluar beberapa apotek dan itu bukan cuma 1 atau dua apotek dengan pertanyaannya yang sama tapi hasilnya nihil. Sempat terbersit untuk membeli secara online tapi entahlah, saya selalu merasa sayang membeli barang selain buku bekas secara online. Maka saya putuskan untuk membeli di sebuah toko perawatan wajah yang harganya mencekik, inti produknya sama mengandung tea tree bedanya yang dulu saya pakai cream dan harganya lebih terjangkau serta berbeda merk dan ini bahannya oil dan harganya lebih mahal, isinya lebih sedikit, bebar-benar berat di merk.

Yah—begitulah wanita demi wajahnya.

Singkat cerita walaupun saya pakainya cuma satu atau dua tetes sehari tetap saja produk ini habis, saya kembali ke toko yang sama dan produknya pun sudah tak promo lagi, sudah tak ada paketan seperti yang saya beli dulu, satuannya pun habis. Sementara jerawat di wajah saya mulai sedikit tidak terkendali maka saya berkonsultasi kepada ayah dan ibu saya, keduanya menawarkan untuk mencarinya di sebuah supermarket yang di dalam supermarket tersebut ada sebuah toko obat dan kosmetik yang cukup terkenal. Saya kesana, saya bertanya, mengeja nama produk tersebut dan hasilnya nihil.

Kemudian saya menyerah. Benar-benar menyerah dan berpikir, malas juga kalau harus ngeluarin duit banyak buat beli produk yang oil, sekalipun mereka restok nanti. Lagi pula saya malas juga harus ke mall, masuk toko itu hanya untuk membeli benda berukuran 100ml. Terlebih lagi saya sudah malas juga harus masuk keluar apotek dan mencari produk yang sama dengan yang dibelikan ibu saya dulu karena hasilnya ya paling sama, nihil.

Lalu saya masuk supermarket bersama kedua orangtua membeli beberapa barang termasuk salah satu produk intensive care jerawat yang harganya memang jauh lebih murah, coba-mencoba siapa tau cocok kan malah bagus, soalnya lebih murah dan lebih gampang dicari, pikir saya begitu. Waktu itu sampai beli dua, yang satu untuk adik laki-laki saya yang wajahnya benar-benar penuh jerawat dan susah sekali untuk dirawat karena orangnya ogah-ogahan.

Sampai kemudian setelah keluar dari supermarket kedua orangtua saya masuk ke toko obat dan kosmetik yang sempat saya masuki sebelumnya. Saat terjadi tawar menawar jenis produk—bukan harga karena harga jelas sudah paten—saya melihat benda yang saya cari selama berbulan-bulan, di etalase, manis sekali, berjejer, masih tersisa tiga buah dan refleks saya berseru, hingga membuat mbaknya yang sedang menjelaskan produk pada ibu saya terkejut.

Setelah itu saya memandangi produk tersebut dengan penuh kesengitan, mana mungkin saya tega meminta, sementara di dalam plastik belanjaan sudah ada dua produk yang memiliki fungsi yang sama.

Dan saya mulai berpikir mungkin seharusnya saya menuliskan nama produk tersebut di kertas ketika bertanya sebelumnya, atau selama ini memang masalahnya di pelafalan bahasa inggris yang buruk, atau memang seharusnya saya tunjukkan saja foto produknya, bekas kotaknya atau apalah untuk menghindari kesalahpahaman seperti kali itu. Bisa jadi sebenarnya salah satu apotek yang saya datangi dulu pun memiliki produknya tapi hanya tidak mengerti saja maksud produk yang saya sebutkan.

Hah—begitulah. Saya tidak tahu kapan waktunya harus menyerah, jika saya tahu pasti saya tidak akan membeli produk yang lain dan menemukan produk tea tree itu lalu membelinya. Walaupun sebenarnya produk yang kali ini saya pakai pun tampaknya ampuh untuk mengatasi jerawat.

Yah begitulah, tidak ada alarm yang mengatakan kapan harusnya berhenti, sementara orang-orang selalu memintamu untuk berjuang atau berhenti sama sekali di satu langkah menuju akhir. Siapa yang tahu— 

"Reading fiction promotes empathy development because you get to see things from another person’s perspective."

"Sometimes all you can do is not think. Not wonder. Not obsess. Not imagine. Just breathe. Breathe in, breathe out. Everything works out in the end, and the more time you spend worrying about it, the longer it takes for things to end perfectly. Just the way they should."

"Some people sabotage themselves on purpose when something good happens to them due to having a perceived lower self-worth."

andatsea:

Early morning in the soundless grey.

andatsea:

Early morning in the soundless grey.

(Source: 3daysmarch.net)